Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

LEKAT: "Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan", Tak Elok Saling Tuding Kesalahan Soal "Taruhan Sabung Ayam", Judi?

Selasa, 20 April 2021 | 16:54 WIB | 0 Views Last Updated 2021-04-20T11:35:25Z
A D V E R T I S E M E N T

 


Tana Toraja, LEKATNEWS -- Bagi sebagian masyarakat Toraja, Sabung Ayam dengan taruhan (Judi) menjadi kegiatan yang diidamkan, bahkan menjadi mata pencaharian. Di beberapa tempat, berkumpulnya beberapa orang bisa berakhir dengan Adu Ayam atau Sabung Ayam. Di pihak lain, adapula yang menjadikan Arena Sabung Ayam sebagai sumber pendapatan non judi, semisal para penjaja makanan, minuman dan kebutuhan lain para penikmat dan pelaku Sabung Ayam dengan Taruhan. Mulfi Flyer Effect, namun agenda utamanya adalah Sabung Ayam dengan Taruhan (Judi).


Sindiran Judi (Sabung Ayam) dan bahkan ada beberapa lagu yang menggambarkan Judi (Sabung Ayam) yang merusak kehidupan rumah tangga dan pendidikan anak. Namun, aktivitas Sabung Ayam dengan Taruhan masih saja merajalela.
Lantas, kalau merugikan, tidakkah Sabung Ayam dengan taruhan akan ditinggalkan?

Berita terkait:

Apa yang menjadi penarik hingga "Arena Sabung Ayam dengan Taruhan (Judi)" terus menjadi idola bagi penikmatnya?

Di berbagai literasi dan artikel, Sabung Ayam dikatakan sudah dikenal sejak dahulu kala, menjadi kebiasaan bahkan sebagian orang sudah mengklaim sebagai Tradisi. Memang, dalam ritual Aluk Todolo (Agama Leluhur Orang Toraja) ayam menjadi penyerta yang utama, dalam prosesi Rabu Tuka' (Suka Cita). 

Kalau mau jujur pada diri mereka-mereka yang menggeluti Sabung ayam dengan taruhan, secara ekonomi, tidak ada jaminan untuk terus-menerus menemui keuntungan dari kemenangan terhadap taruhan. 

Namunpun demikian, ada hal lain yang menjadi penarik utama didalam pergaulan Komunitas Sabung Ayam. Pengakuan sebagai "Petarung", memiliki banyak uang dan berani bertaruh. Bahkan beberapa oknum Dewan bermula dari sosialisasi diri di arena Sabung Ayam. 

Kepuasan lainnya, adalah saat Ayam aduannya mengalahkan ayam lawannya, secara mental, pihak yang kalah akan merasa tertindas oleh kekalahan. Pada kesempatan berikutnya akan berupaya untuk sedapatnya mengalahkan lawannya pula.

Hal lain, adalah para penjamin/penyedia "Sabung Ayam" mendapat posisi tertentu dalam komunitasnya. Secara bisnis, terkadang para "Pengendali" Sabung ayam akan dapat mengundang koleganya dari daerah lain, bahkan lintas Provinsi. Hebatkah?

Itulah realita, bahkan terkadang kemunafikan dijadikan "Cadar" bagi mereka yang menikmati Aduan Ayam namun masih punya peran di kemasyarakatan dan apalagi kerohanian.

Pertanyaan besarnya, kemudian, Siapa yang Bersalah?
Siapa yang harus bertanggungjawab?
Pihak Keamanan, semisal Polisi, tentunya sesuai Protap yang ada. 

Semua pihak harus peduli, dan bertanggungjawab. Ya, itu Polisi, Politis, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan apalagi para pemberi peluang terjadinya Arena Sabung Ayam.

"Tak Elok Saling Tuding Kesalahan Soal "Taruhan Sabung Ayam" ungkap Direktur LSM LEKAT, Ferryanto Belopadang.

Semua kembali pada peran dan kepedulian masing-masing pihak. Berdasarkan literasi, Sabung Ayam adalah perilaku sejak jaman dahulu kala, ibarat kata sebuah penyakit, itu sudah menjadi penyakit menahun, proses penyembuhan tentunya membutuhkan penanganan intensif dan butuh waktu yang lama, lanjutnya.

Akankah perilaku "Judi" Sabung Ayam akan berkurang, atau bahkan ditiadakan? semua terpulang kepada pelaku dan penikmatnya, tentunya!!!.(FB)
 


×
Berita Terbaru Update